Jumat, 16 April 2010

Teknologi VS Tradisional

Teknologi. Pada zaman sekarang kemajuan teknologi sangatlah pesat sekali. Namun dari perkembangan teknologi tersebut apakah selalu baik di kehidupan masyarakat?
“Tentunya, iya donk. Mana mungkin teknologi berdampak jelek bagi masyarakat? Kan dengan teknologi kita semua mudah melakukan apapun.”
Memang jawaban itu tidak salah. Tentu dengan teknologi kita bisa melakukan apapun yang tidak bisa manusia lakukan dan dapat dilakukan oleh teknologi. Itulah salah satu diantaranya dampak positif dari perkembangan teknologi. Tapi setelah kita menilik lebih dalam lagi pasti ada cela yang tidak bisa tertutup rapat dengan teknologi. Apakah itu?
Negara Indonesia adalah Negara yang sangat kental dengan nilai – nilai budayanya. Dan budaya – budaya tersebut membentuk masyarakat yang dapat bersosialisasi sesamanya dengan baik. Mulai dari anak – anak bahkan sampai dengan orang tua merasakan nilai – nilai budaya yang ada di Negara Indonesia. Namun seiring perkembangan jaman, nilai – nilai budaya tersebut terkikis oleh keberadaan teknologi.
“Memangnya iya ya? Kebudayaan kita terkikis dengan perkembangan teknologi? Contohnya apa memangnya?”
Tidak menutup kemungkinan kalo pertanyaan itu muncul di generasi muda berikutnya. Ya, secara perlahan nilai – nilai budaya Indonesia akan terkikis oleh perkembangan teknologi. Contohnya adalah nilai – nilai budaya social, nilai – nilai budaya tradisional. Nilai – nilai budaya tersebut akan kita bahas sebagai berikut:
1. Perkembangan teknologi yang menurunkan atau mengikis nilai budaya social bermasyakarat (kebersamaan).
- Perkembangan dunia game pada dunia anak.
Tentu kita tahu dunia game pada jaman sekarang sangat canggih teknologinya. Hanya dengan menghubungkan game dengan televisi anak – anak bisa memainkannya. Hanya duduk dan diam, anak – anak sudah sangat senang. Contohnya saja PlayStation.
Bandingkan dengan permainan tradisional anak – anak, seperti Gobak Sodor, Cublek – cublek suweng. Permainan – permainan tersebut tentu tidak hanya tradisional tetapi membuat anak – anak berkreatif, bergerak untuk melatih saraf motorik, penuh dengan keceriaan.


- Perkembangan sound system
Tentu sound system sangat bermanfaat bagi manusia, sebagai pengeras suara sound system sering digunakan pada masjid – masjid dan musholla – musholla. Namun sekarang sound system sering digunakan untuk membangunkan orang sahur saat bulan puasa. Tetapi lebih mengasyikkan lagi jika kita membangunkan sahur dengan berkeliling sambil membawa gallon kosong dengan ramai – ramai, sambil melatih kreatifitas kita dalam bidang musik. Secara tidak langsung nilai – nilai social akan terkikis.


- Perkembangan teknologi pada bidang pertanian.
Jelas sekarang para petani diuntungkan dengan alat berteknologi untuk memisahkan padi dengan pohonnya. Dengan alat tersebut seorang petani dapat menyelesaikan sendiri petak – petak sawahnya. Hanya dengan memasukkan padi yang berisi ke dalam mesin pemisah, biji padi pun dapat dipisahkan dengan sendirinya. Tetapi alat tersebut membuat suara yang sangat bising dari mesin.
Namun dengan cara tradisional tidak kalah menarik. Dengan alat yang bernama Lesung dan Alu padi pun dapat dipisahkan. Bahkan suara – suara yang dihasilkan oleh alat tersebut dapat dijadikan music atau dalam bahasa jawa “klotekan” dan diikuti nyanyian para petani.


Maka dari itu, kita sebagai masyarakat Indonesia yang mengenal budaya bersosial dan bermasyarakat, harus bisa memfilter teknologi – teknologi yang dapat mengikis nilai budaya social dan bermasyarakat tersebut. Janganlah seenak – enaknya memakai teknologi tanpa mengetahui manfaatnya.

Minggu, 04 April 2010

Kasus Markus, Antara Etika dan Profesionalisme

Markus, sebutan dari Makelar Kasus. Itulah fenomena yang terjadi di Negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena fenomena inilah sehingga muncul beberapa pertanyaan yang perlu dijelaskan.
Ada apa gerangan dengan Negara kita tercinta ini?
Adakah yang salah dengan Negara kita ini?
Beberapa pekan terakhir kita tidak bisa menolak dengan tayangan televisi seputar markus di kalangan perpajakan. Gayus Tambunan, nama itulah adalah aktor dibalik maraknya markus. Kita semua tahu bahwa Gayus adalah seorang PNS golongan III A. Berdasarkan kompas.com bahwa gaji gayus mencapai Rp. 12.1 juta. Apakah dia merasa tidak cukup dengan gaji sebesar itu?
Makelar kasus memang mengambil keuntungan jika ada kesempatan. Ya itulah namanya korupsi. Menurut pendapat penulis ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya korupsi. Pertama adalah dari institusi pendidikan. Disini tanpa adanya pembelajaran dari pendahulunya dalam arti institusi pendidikannya, tak mungkin jika seseorang melakukan tindak korupsi. Jelas pasti ada cara sendiri untuk melakukannya, untuk melihat peluang yang ada. Maka dari itu untuk generasi muda berikutnya dalam memilih institusi pendidikan marilah kita melihat sejarahnya terlebih dahulu dari institusi pendidikan tersebut.
Kedua adalah factor agama. Iman seseorang sangat berpengaruh dalam melakukan setiap perbuatan. Jika kita memiliki iman yang kuat pasti dalam hal melakukan kegiatan kita ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ketiga adalah factor budaya, ketika kita masuk kedalam suatu institusi pemerintahan, kita juga harus pintar menjaga budaya yang benar, sesuai dengan norma – norma yang berlaku. Menurut pendapat penulis, pasti seorang Gayus terpengaruh oleh “budaya” yang ada dalam institusi tersebut. Dan menurut beberapa pendapat beberapa orang, jika tidak menuruti “budaya” dari institusi tersebut maka bersiap – siaplah untuk gigit jari melihat teman naik pangkat karena menggunakan “budaya” tersebut.
Maka dari itu kita semua sebagai generasi penerus bangsa, harus tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jangan tinggalkan agama karena agama adalah pondasi kita agar tidak melakukan hal – hal yang berdosa. Mari kita menggunakan Ideologi Pancasila agar kita tetap beretika dan professional dalam melakukan perbuatan apapun.